sajada filosopi kopi

 

Diskusi Kedai Kopi 2 (Agama?)

Beberapa hari setelah pertemuan Zaqi dengan Dean di kedai kopi yang katanya menyajikan kopi paling enak, mereka pun kembali ke kedai tersebut.

Dean dosen muda yang lumayan lama tinggal di Jerman rupanya kini menjadi gamang dengan pemandangan serba tidak teratur di negeri tempat dilahirkan dan dibesarkannya. Keringat sebesar biji jagung serta kemeja kuyup menjadi bonus dari keinginannya menjajal transportasi umum.

Zaqi : "Gimana, asik kan?"

Dean : "Sadis Bro, Negeri auto pilot, semua pakai aturan masing-masing. Nih, aku pesan kopi yang paling strong untuk balikin mood."

Zaqi : (Menghirup dan menyeruput kopi) "Bismillah, hmmm.. mantap kopinya bro."

Dean : "Thanks untuk pembuat kopi ini, kopi yang tidak tercipta dengan sendirinya, ha ha ha."

Zaqi : "Alhamdulillah, semoga kalimat tadi adalah tanda bahwa kau telah setuju dengan adanya pencipta."

Dean : "Apa boleh buat, aku belum punya argumen lain atas diskusi kita sebelumnya."

*baca artikel Diskusi Kedai Kopi (Tuhan?)

Zaqi : "He he, Kalau begitu, agar diskusinya dapat berkembang, kita ambil kesimpulan sementara saja bahwa memang ada subjek pencipta yang kita beri nama 'Tuhan' dibalik maha karya cipta alam semesta, setuju?"

Dean :"Ha ha baiklah, itu kesimpulan sementara ya."
"Anggaplah Tuhan itu ada tetapi tidak serta merta harus ada yang namanya 'Agama'."
"apa perlunya ada agama? bagaimana kau menjelaskan ini dengan kopi? ha ha ha"

Zaqi : "He he, kau memang dosen sejati bro, dimana-mana kepuasan dosen penguji adalah memberikan pertanyaan yang sangat sulit tanpa berharap pertanyaan tersebut akan bisa dijawab."

Dean : "Justru aku sedang menempatkan diriku sebagai mahasiswa yang sangat bodoh sehingga kebingungan sekecil apa pun pasti akan kutanyakan."

Zaki : "Baiklah, kalau begitu marilah kita yang sama-sama bodoh ini belajar bersama, semoga Sang Pencipta Yang Maha Cerdas dan Pemberi Keceredasan berkenan membebaskan kita dari kebodohan dan menunjukkan jawaban dari diri-Nya atas niat kita untuk mengenal-Nya."

"BTW Bro, kopi mu mantap?"

Dean : "Hmm, Sepertinya kelas telah dimulai, mantap lah bro, tadi kan kubilang thanks untuk pembuat kopi ini."

Zaqi : "Bagaimana jika kutambahkan 10 sendok garam ke cangkirmu?"

Dean : "Akan ngawur rasanya."

Zaqi : "Atau bagaimana jika airnya kita buang dan ampasnya lah yang kita teguk?"

Dean : "He he sebenarnya apa yang sedang ingin kau sampaikan?"

Zaqi : "Itu lah Agama."

Dean : "Hmm, (berpikir sejenak) aturan pakai dari sebuah produk."

Zaqi : "Betul sekali, tepatnya panduan dari sebuah produk yang ditetapkan oleh si penciptanya."

"Kopi ini hanya akan nikmat jika kau minum dengan cara yang sesuai dengan panduan yang ditetapkan oleh pembuatnya."

Dean : "Sebentar Bro, bukankah pembuat kopi ini tidak menulis atau mengatakan tentang panduan cara meminum kopi? tapi kita sendiri lah yang menggunakan akal sehingga kita tidak menambah garam atau hal-hal konyol lainnya."

"Artinya kita tidak butuh panduan atau agama, cukup dengan akal kita pun bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh."

Zaqi : "bukan akal semata yang membuat kita tidak menambah garam bro, untuk kasus ini, kebetulan akal kita telah dibekali oleh pengetahuan tentang panduan cara menikmati kopi, entah dari orang tua, tetangga, film, buku dan sebagainya yang dimana jika ditelusuri, kesemuanya mengikuti panduan dari si pembuat kopi pertama didunia dan kenapa mereka tidak memberikan panduan? karena pembuat kopi di kedai ini berasumsi kita telah tahu panduan tersebut, mari kita buktikan."

"Jika mereka meletakkan empat cangkir berisi air hitam dimeja kita tanpa ada panduan informasi apa pun, apakah akalmu dapat membedakan kopi, kuah rawon hitam, air kali Ciliwung dan cairan kimia yang berwarna hitam? Mau kau coba satu-persatu"

Dean : "Kau mengada-ada."

Zaqi : "Memang, karena ingin membuktikan sehebat apa akal memproses hal baru tanpa bantuan informasi."

"Ok, agar lebih masuk akal, cangkir pertama memang berisi kopi sebagaimana kopi kita ini, terserah mau ditambah gula atau tidak."

"cangkir kedua berisi kuah semacam rawon hitam adalah penemuan terbaru sebagai hidangan bonus penghangat dan enak dilidah jika ditambah sedikit garam dan lada, bukan gula atau cream, semacam komplimen agar kedai mereka mempunyai ciri khas.

"Cangkir ketiga berisi air kali Ciliwung yang hitam ternyata memang bukan untuk diminum tetapi sebagai bentuk kreativitas kampanye Go Green, jika bersedia, cukup kau foto dan upload si media sosial sebagai tanda kepedulian, penyaji akan membawanya kembali.

"Cangkir ke empat berisi cairan kimia berupa aroma terapi yang kebetulan berwarna hitam, pastinya juga bukan untuk diminum tetapi jika disulut api maka akan menebarkan aroma wangi yang menenangkan."

"Tanpa adanya panduan informasi dari mereka yang seperti kujelaskan, bayangkan kekacauan apa yang akan terjadi?"

"Jadi itulah pentingnya sebuah panduan dihadirkan bersama sebuah produk."

"Kita lihat saja dikehidupan sehari-hari, smartphone, laptop, mobil dan semua produk-produk syarat teknologi yang kau beli pasti disertakan buku panduan, bahkan obat, juga disertakan aturan pakai, mie instan, dibungkusnya pun tertera cara memasaknya, apalagi mahakarya produk yang bernama 'manusia' bro."


Dean : "Beda bro, agama itu tidak seperti itu, hal-hal yang diajarkan agama atau ditulis dalam kitab suci sama sekali bukan hal teknis."

"Kalau cuma pesan jangan mencuri, jangan membunuh, ayo saling menolong dan sebagainya, kita bisa lah melakukannya tanpa harus beragama atau membaca kitab suci."

Zaqi : "Sebagai seorang akademisi, kali ini kau terlalu ceroboh mengambil kesimpulan."

"Kita tidak bisa menyimpulkan rasa semua kopi adalah sama jika kita bukan ahli atau penikmat kopi sejati, bukan?"

"Ada banyak jenis kopi, begitu pula agama, pernahkah kau secara mendalam mencicipi atau mempelajarinya dengan menggunakan lidah penikmat kopi atau bukan dengan lidah yang awam?"

Dean : "Ya pasti tidak, kau kan tahu aku bahkan tidak percaya Tuhan."

Zaqi : "Bro, haruskah kita mengulangi diskusi kita tentang eksistensi Tuhan?"

Dean : "He he, Ok, jadi menurutmu agama itu memberikan panduan teknis? Buktikan!"

Zaqi : "Sabar Bro, he he, tadi kan sudah kubilang Agama yang kita kenal lumayan banyak, belum sampai kesitu."

"Karena kau belum sependapat tentang perlunya ada Agama, untuk apa kita diskusi tentang macam-macam 'Agama' atau macam-macam 'Panduan Produk'? sementara kau belum setuju bahwa sangat penting sebuah panduan dihadirkan bersama sebuah produk."

"Nanti bila kita telah sepaham, barulah kita harus bedah satu persatu, mana agama atau panduan yang sesuai dengan produk, mana yang tidak sesuai dengan produk."

"Ok, begini saja, Jika Smartphone ini adalah penemuanmu, apakah kau lempar ke pasar tanpa panduan?"

Dean : (Berpikir sejenak) "Hmm, Baiklah, untuk produk sekelas smatphone, pasti kusertakan panduan dan kabar baiknya kau akan kujadikan Direktur Pemasarannya, ha ha ha."

Zaqi : "Ha ha ha, boleh, boleh, jadi kenapa kau berikan panduan bro? pasarmu kan orang-orang cerdas dan kenapa pula aku yang kau jadikan Direktur Pemasaran?"

Dean : "Well, aku sepaham deh, panduan kuberikan karena aku lah yang paling tahu tentang produk yang ku buat dan masalah kedua kulihat kau cocok jadi Direktur Pemasaran."

Zaqi : "Ha ha, sepertinya kita sudah mendekati titik temu, kenapa aku bro, bukan kawan rekanmu di Jerman, misalnya?"

Dean : "Serius nih kujawab?"

Zaqi : "Serius lah, masih berkaitan dengan materi diskusi soalnya."

Dean : "Ha ha, Ku ikuti style diskusi mu Bro, Gini, kita kan sudah sering berdiskusi banyak hal, contohnya seperti saat ini saja, ku lihat kau gigih, pantang menyerah, sabar, cerdas, menguasai materi dan yang terpenting adalah paling kupercaya, pantaslah untuk menjadi Direktur Pemasaran untuk Smartphone temuan ku, ha ha ha."

Zaqi : (Meneguk Kopi)"Masya Allah, kopi ini memang strong bro, ha ha ha."

Dean : "Ha ha ha."

Zaqi : "He he, Serius Bro, saking strongnya, kau sendiri sudah menjawab pertanyaanmu, kenapa penting ada 'Agama', sekaligus siapa pula 'Nabi' itu?"

Dean : "Hmm begitu ya?

"Sejujurnya aku masih belum plong, Ok, kita coba keluar dari rundown diskusi ini."

"Menurutku tanpa beragama seseorang tetap bisa menjadi orang baik, bro."

"Kau tahu aku kan, sebut saja aku atheis, tapi aku tidak suka mengambil hak orang lain dan aku pun suka berbuat baik untuk orang lain, untuk apa lagi kita beragama?"

"Artinya aku bisa menggunakan produk sesuai dengan pedoman yang dibuat pencipta produk tanpa membaca buku pedoman yang mereka sertakan."

Zaqi : "Ok, Seks bebas, hubungan sejenis, nudisme, pengunaan narkoba, bunuh diri apakah kau setuju?

Dean : "Aku kan tidak melakukan itu."

Zaqi : "Kalau dilakukan orang lain?"

Dean : "Hmm, terserah mereka lah, syaratnya asal tidak mengambil hak orang lain."

Zaqi : "Yakin? Jika dilakukan oleh, sorry, hanya untuk contoh materi diskusi, calon istrimu, anak-anakmu kelak, ibu-bapakmu, saudara-saudara kandungmu dan sebagainya? Boleh?"

Dean : "Ya enggak setuju sih, cuma kan Negara sudah membuat hukum yang melarang hal-hal tersebut, untuk apa masih ada agama?"

Zaqi : "Bagus, artinya sebenarnya kau bukan atheis sejati karena kau pun tidak setuju akan hal-hal tersebut sekalipun tidak mengambil hak orang lain."

"jangan lupa bro, biasanya negara-negara yang memberlakukan hukuman atas perbuatan tersebut adalah karena desakan kaum agamis."

"Kau boleh mengaku Atheis tetapi Atheis belum tentu dirimu bro, pakem mereka adalah menjunjung tinggi hak-hak pribadi dan akal adalah tuhan."

"Dalam beragama sifat kikir, sombong, egois dan sebagainya dilarang dan mendapat ganjaran dosa jika dilakukan."

"Sementara dalam aturan selain agama, semua perbuatan tadi tidak bisa dikenakan tindakkan hukum."

Dean : "Jangan lupa ada sanksi sosial bro."

Zaqi : "Itu pun berlaku untuk masyarakat beragama bro, untuk masyarakat atheis, tidak konsisten jika memberlakukan sanksi tersebut, itu adalah hak pribadi dan sama sekali tidak mengambil hak orang lain."

Dean : "Ok, bukan sanksilah sebutannya tetapi orang lain juga punya hak untuk memutuskan hubungan dengan orang tersebut."

Zaqi : "Ha ha, konteksnya tetap sama, Ok, Kita hapus sifat kikirnya, orang atheis yang kaya yang sombong dan egois bisa membayar harga sebuah hubungan, artinya sudah tidak ada lagi kekuatan yang bisa mengganjar perbuatan sombong dan egois."

"Kembali ke soal kikir, bila akal benar-benar menjadi tolak ukur, sangat tidak ada gunanya memberi uang kepada pengemis yang tidak kau kenal, yang mungkin tidak akan bertemu lagi serta tidak memberi balasan kepadamu."

"Secara akal pemberian lebih baik dialamatkan untuk boss, klien, calon pacar, calon mertua atau orang yang sedang mengancammu maka itu baru berguna karena bisa memberikan manfaat balik kepadamu."

Dean : "Bukan cuma akal, orang atheis kan juga punya hati."

Zaqi : "Hmm, ternyata kita harus menyamakan persepsi tentang atheis terlebih dahulu."

"Menurutmu sandaran orang atheis itu akal atau sesuatu yang abstrak yang sulit di jelaskan oleh akal?"

Dean : "Nanti dulu, nanti dulu,  sekarang kubalik, menurutmu sandaran orang beragama itu akal atau bukan akal?"

Zaqi : "Kalau menurut agama yang ku anut, agama memang ditujukan untuk orang berakal dan itu tertulis di buku pedoman agama kami."

Dean : "Lalu kenapa kau melakukan hal yang tidak sesuai akal seperti contoh bersedekah tadi?"

Zaqi : "Ok, kita coba runut, karena kami berakal, kami harus percaya eksistensi Tuhan, selanjutnya kami akan mencari panduan dari Tuhan, karena menurut akal kami, kami adalah produk luar biasa yang tidak diciptakan kecuali untuk tujuan yang Dia mau, setelah kami menemukan panduan yang menurut akal adalah benar-benar merupakan panduan otentik dari pencipta kami, maka kami melaksanakan panduan tersebut, walau nantinya
ada kasus-kasus yang sepertinya tidak sesuai akal."

"Jangankan bersedekah, berpuasa sebulan penuh, mengitari ka'bah juga kami lakukan."

Dean : "Nah itu, kenapa akhirnya kalian meninggalkan akal?"

Zaqi : "Karena setelah kami menemukan 'Tuhan' beserta 'Pedomannya' melalui akal kami, berarti kami telah menemukan sesuatu yang memiliki 'Akal' paling tinggi dimana bahwa akal kami sesunguhnya terbatas, sementara 'Akal' Tuhan kami itu tanpa batas."

Dean : "Ha ha, kalau begitu jangan bilang agama kalian ditujukan untuk orang berakal."

Zaqi : "Begitu ya? he he, ok, seandainya kau tersesat di hutan, pastinya kau gunakan seluruh daya akalmu untuk menemukan jalan, bukan?"

Dean : "Pasti."

Zaqi : "Tetapi ketika kau bertemu dengan tim SAR yang sangat mengetahui tentang hutan, kau pasti sadar bahwa pengetahuanmu sangat terbatas dibandingkan mereka, lalu apakah kau tetap memaksakan pengetahuanmu atau kau menyerahkan kepada mereka?"

Dean : "Aku harus yakin terlebih dahulu kalau mereka memang tim SAR profesional dong."

Zaqi : "Betul sekali, gunakan akal mu untuk memilih Tuhan versi agama yang benar, selanjutnya setelah yakin kau telah menemukannya, baru kau serahkan akalmu, jangan terbalik bro, he he."

Dean : "Luar biasa, hmm materi bagus untuk direnungkan, tapi kau jangan tersinggung ya kalau nanti aku tidak berubah pendirian ya?"

Zaqi : "Sama sekali tidak bro, santai aja, karena didalam agamaku, kita hanya berkewajiban untuk menyampaikan saja, tidak ada paksaan dalam beragama, itu urusan vertikal masing-masing individu kepada penciptanya."

"untuk tambahan materi renunganmu, coba kau bayangkan sendiri jika manusia diseluruh dunia ini tidak ada yang percaya tuhan."

"Dengan kondisi yang sebagian beragama saja, kau lihat betapa bobroknya, padahal mereka percaya ancaman Tuhan"

"Jangan kau bilang agama menyebabkan perang lah, terlalu dangkal kesimpulan itu, jangankan beda agama, kita ini beda kampung, beda klub sepak bola favorit sampai beda pilihan presiden aja bisa bacok-bacokkan kan? ha ha."

"Ingat Bro, saat kau tadi baru tiba di kedai ini, kau bilang negeri ini autopilot, semua pakai aturan masing-masing, padahal negeri ini ada penguasa dan hukumnya."

"Bagaimana kacaunya jika negeri ini tidak ada penguasa dan hukum, sehingga masalah baik dan benar diserahkan pada tafsiran akal masing-masing?"

"Kalau ada penguasa dan hukum saja, motor ada di trotoar, jalur busway, karena menurut akal mereka, tepat waktu masuk kantor lebih penting dari pada urusan lain."

"Apakah dengan tidak ada penguasa dan hukum maka dunia akan menjadi lebih baik?"

Dean : "Wow, Strong discussion, persis kopi ini, kerasnya membuat banyak lampu mulai menyala di kepalaku, lain waktu kita bicara mengenai agama pilihanmu bro, Islam."

Zaqi : "Insya Allah, semoga diskusi kta bermanfaat."

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif

 

 

Baca Juga :

Diskusi Kedai Kopi 1 (Tuhan?)

Diskusi Kedai Kopi 2 (Agama?)

Diskusi Kedai Kopi 3b (Islam?)


 

BERITA

WIEF Mendorong UKM Berbasis Islam Menjadi Bisnis Masa Depan

 

Forum WIEF berhasil menciptakan komitmen investasi di sektor UMKM senilai US$ 900 juta atau sekitar Rp 11,88 triliun. 

Jika Islam adalah Sebuah Brand

 

Jika Islam adalah sebuah Brand, maka pendakwah adalah pemegang peranan fungsi Marketing dan Public Relation. Bila terjadi pergeseran persepsi, maka saatnya kita koreksi diri dan kembali kepada value dan cara memasarkan (dakwah) seperti yang diajarkan Rasulullah. 

Bijaksana Dalam Share Di Media Sosial

 

Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Peduli Masyarakat Sekitar, AXA Mandiri dan BAZNAS Salurkan Paket Ramadhan Bahagia

 

Pada tahun 2015 AXA Mandiri telah menyediakan perlindungan asuransi syariah melalui lebih dari 20 ribu polis asuransi dan pada tahun 2016 meningkat menjadi lebih dari 33 ribu polis asuransi syariah. 

Mengejar Ilmu Dari Media Sosial, Amankah?

 

Ada hal yang harus kita ingat, di dalam dunia maya, siapa pun bisa menulis apa saja dan bisa membuat video apa saja. Tentunya butuh kehati-hatian dalam menerima informasi. 

TAUSIAH

Ali Jaber

 

Syekh Ali Jaber sudah menghatamkan hafalan Al Quran nya pada usia 10 tahun dan kemudian sudah diamanahkan untuk menjadi imam masjid di Madinah sejak usia 13 tahun. 

Usia 40 Tahun, Belum Ada Minat Terhadap Agama, Pertanda Buruk Sisa Umur

 

Kaum salaf, apabila diantara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. 

Yusuf Mansyur

 

Yusuf Mansur adalah seorang tokoh pendakwah, penulis buku dan pengusaha dari Betawi, sekaligus pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Tangerang dan pengajian Wisata Hati.

Mereka Yang Didoakan Oleh Para Malaikat

 

Malaikat pun senantiasa mendoakan manusia, sehingga atas kedudukannya yang mulia, tentunya kita pun berharap menjadi termasuk manusia yang didoakan oleh para malaikat.

Pondok Modern Gontor

 

Pondok Modern Gontor adalah pelopor pesantren modern yang membekali santrinya dengan pendidikan agama Islam ditambah ilmu-ilmu umum yang menunjang kompetensi santrinya seperti menjadikan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa sehari-hari. 

BELAJAR ISLAM

Silsilah Garis Keturunan 25 Nabi dan Rasul

 

Menurut pendapat para ulama, jumlah Nabi dan Rasul sangatlah banyak, dikatakan bahwa jumlah nabi mencapai hingga 124.000 orang. 

Rukun Iman

Rukun Iman adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi untuk menjadi seorang dapat dikatakan beriman. Iman sering diartikan dengan percaya atau secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan).

Nabi Ayyub AS

 

Iblis mengira ketaatan Nabi Ayub AS adalah hanyalah ketaatan untuk mengamankan kondisi ideal sang nabi agar terus dapat hidup dengan segala kenyamanan tersebut.

Mahzab Ulama Fiqih

Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu'. Ini adalah pengertian mazhab secara umum.

Syarat Sah Sholat

 

Untuk melaksanakan Sholat, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sholat yang kita lakukan menjadi sah atau  diterima oleh Allah SWT.