sajada subuh alazhar 3

Suasana Sholat Subuh Berjamaah Masjid Al Azhar, Jakarta

 

Menyelami Berisiknya "Aksi 212"

Memandang konflik nasional yang semakin menghangat, Apakah benar ketenangan dan kedamaian kita dalam berbangsa sedang diganggu oleh sekelompok orang yang "berisik" yang sedang memaksakan keinginan politiknya?

 

Sudut Pandang Mainstream

Dalam sudut pandang yang dibatasi dari kondisi global (dunia), memang sungguh mengherankan, DKI Jakarta
yang sedang melakukan banyak pembenahan dari berbagai masalah seperti banjir, kemacetan, pungli, korupsi, kualitas pelayanan publik dan sebagainya tiba-tiba menjadi "memanas" disaat tokoh yang dianggap sebagai pelaku aksi nyata perubahan tersebut kembali bertarung untuk memimpin DKI Jakarta.

Apalagi kemudian disusul reaksi suara keras yang mengelindingkan "bola salju" penolakkan terhadap Ahok (Calon Gubernur DKI petahana) akibat pernyataan beliau yang "menyebrang" yaitu "dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51), Para pihak pendukung Ahok (yang sebenarnya ada di posisi supporter atau bukan pemain utama atau tidak sadar siapa pemain utama dibelakangnya) pun menilai kerasnya suara mereka yang kini dikenal "aktivis 212" itu sebagai sebuah kebisingan dan pemaksaan ego.

 

Sudut Pandang Global

Untuk memahami "suara keras" itu memang harus memperlebar sudut pandang dengan melihat situasi global (dunia).

Begini sudut pandangnya, ternyata, Dunia sebagai tempat bernaungnya milyaran manusia sedang menuju era seleksi alam akibat akan menyusutnya wilayah bumi yang layak untuk hidup.

Penyebabnya adalah akan berlangsungnya "Krisis Global", yaitu :

1. Krisis Energi Fosil (Cadangannya hanya mencukupi untuk 41 Tahun lagi)
2. Krisis Wilayah yang layak Air dan Pangan (Sekitar tahun 2043, Hanya daerah ekuator yang mencukupi)

Data-data ini mudah dicari diberbagai sumber yang kita anggap valid. Sudah dapatkah anda membayangkan
bahwa kondisi bumi nantinya bagai kapal pesiar yang akan tenggelam, dimana negara-negara yang berada di lintasan equator seperti sekoci-sekoci yang hanya dapat menampung segelintir manusia dan negara-negara adi kuasa yang notabene tidak berada didalam sekoci seperti sekelompok orang yang memiliki senjata yang pasti ingin menyelamatkan keluarganya, kalau perlu harus merebut sekoci-sekoci tersebut.

Indonesia sebagai negeri terpanjang yang dilintasi equator, negeri yang subur sebagai paru-paru dunia, negeri yang banyak memiliki sumber daya alam, pastinya terlihat sebagai sekoci paling besar dan nyaman yang paling bernilai bagi para negara adi kuasa untuk direbut.

Tidaklah berlebihan jika kita harus mengantisipasi kemungkinan potensi ancaman, dimulai dengan mengamati pergerakan negara-negara adi kuasa saat ini yang tengah melakukan upaya penyelamatan dengan cara menguasai negara-negara penghasil minyak dan negara-negara yang memiliki wilayah yang kaya sumber pangan dan air (negara-negara dilintasan equator).

Saat ini jika kita amati, penaklukkan tengah berlangsung, baik dengan senjata ekonomi maupun dengan senjata militer melalui perang proxy.

 

Perang Proxy

Proxy war atau Perang proxy adalah perang yang terjadi ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung (Wikipedia).

Contohnya, Negara Adi Daya A dan Negara Adi Daya B sedang bersaing untuk menaklukkan Negara C, Maka di Negara C akan diciptakan konflik internal yang membuat kubu-kubu yang saling bertikai, dimana masing-masing kubu akan mendapat dukungan dari Negara A atau B tadi untuk berperang.

Setelah Negara C hancur, maka Negara Adi Daya yang kubu didukungnya menang, akan masuk sebagai (seolah) "penyelamat" dan mengambil bayaran atas dukungannya. Saat ini, itulah yang terjadi di Timur-Tengah.

 

Perang Ekonomi

Perang dengan senjata ekonomi tidak kalah efektifnya. Dengan bentuk "praktek riba kelas dunia" suatu negara dapat dikuasai, ini bukan hal baru tentunya, bedanya, jika sebelumnya yang memegang peranan adalah "kubu yang dipimpin Amerika Serikat" (sebenarnya adalah Federal Reserve Bank, pelajari siapa ini? ), kini ada pemain baru yang kini sedang agresif bermain di benua Afrika, yaitu Negara Adi Kuasa RRC (China) yang bisa dimasukkan kedalam kubu lawan pemain pertama tadi, kita sebut saja "Kubu Kiri" (Kubu China Rusia, Iran dsb).

Mungkin ada yang menilai analisa ini terlalu berlebihan. Apakah bantuan (Baca : Hutang dengan Bunga dan syarat-syarat lainnya) itu bisa disamakan dengan penjajahan?

Secara sederhana penjajahan itu lebih mirip dengan perampokan karena mengambil dengan paksa, sementara hutang, akan menyebabkan pengambilan paksa hanya jika "si penikmat hutang" tidak memenuhi kewajiban yang telah sama-sama disepakati. Bukankah itu "bukan perampokkan"?

Apa yang terjadi di Zimbabwe, Angola, Afrika Selatan bukankah tidak bisa disebut sebagai penjajahan? Karena mereka sudah menikmati hutang, tidaklah salah jika China memberikan syarat-syarat tertentu dalam memberikan hutang dan kemudian menawarkan "solusi-solusi yang menguntung China" akibat ketidak mampuan mereka dalam membayar hutang.

Ya, sepertinya memang tidak ada yang salah jika rumah pribadi anda disita akibat hutang yang anda nikmati sendiri itu tidak terbayar.

Tapi jika anda berhutang menggunakan jaminan "rumah milik bersama", bukankah anda harus mendapat persetujuan "seluruh pemilik rumah" mengenai syarat-syarat berhutang, kepada siapa berhutang, untuk siapa penggunaan hutangnya, bagaimana cara membayar hutang, setujukah rumah bersama dijadikan jaminan hutang dan sebagainya.

Apakah kita mau membayar angsuran beserta bunga terhadap hutang yg kita tidak tahu, penggunaan uangnya bukan untuk hajat kita dan pada akhirnya kehilangan rumah milik kita bersama akibat keputusan seseorang yang merasa punya wewenang mengatas-namakan "kita" tetapi tidak menyertakan "kita". Pastinya bagi kita, seseorang dari kita telah "merampok" kita.

 

Indikasi "Masuk Angin" Memicu Aksi Berisik

Kembali ke persoalan "krisis Global", sebagai negeri sekoci terbaik, masyarakat aksi 212 sepertinya bukan melihat persoalan pilgub ini dari kacamata lokal, tetapi melihat bahwa elemen yang merasa punya wewenang mengatas-namakan "kita" tetapi tidak menyertakan "kita" ini telah "masuk angin". Yaitu membiarkan potensi ancaman dari negara Adi Daya dalam perebutan sekoci ini masuk, baik melalui perang ekonomi maupun perang proxy. Kebijakan-kebijakakan yang memuluskan tiket masuknya kubu agresif  diatas memang perlu dikoreksi bukan hanya oleh masyarakat aksi 212. Walaupun sebenarnya tanpa hadirnya "kubu kiri" di negara kita, kita telah menjadikan "kubu Amerika Serikat" (Federal Reserve Bank) sebagai majikan, lalu dimana bedanya?

Yang terbaik adalah negara ini merdeka dalam arti sebenarnya, yaitu tidak memilih menjadi negara jajahan (langsung atau tidak langsung) dari kedua kubu tersebut. Tetapi karena justru langkah atau kebijakan yang diambil adalah "Langkah Menganti Majikan", maka terdengar berisiklah masyarakat 212. Kenapa? Karena "Majikan" baru yang dipilih ini bukan saja menginginkan keuntungan ekonomi, tetapi Negara tersebut membutuhkan tanah untuk menempatkan rakyatnya yang sudah terlalu sesak di negara asalnya dan ingin memasukkan ideologi-ideologi berbahaya yang nantinya bisa menyuburkan perang saudara.

Secara perang ekonomi, jika bukan karena "aksi berisik" tadi, nasib kita akan seperti negara-negara di Afrika tadi.

Secara perang proxy, jika bukan karena "aksi berisik" tadi, benih syiah dan komunis tentunya juga akan mulus tumbuh subur yang bisa menjadi tiket masuk negara Adi Daya menjadikan Indonesia sebagai arena perang proxy.

Belajar pula dari sejarah Indonesia, para pejuang NKRI pun pernah dianggap sebagai "kaum berisik" yang merusak kedamaian dan keutuhan Negara Hindia Belanda.

Bagi yang melihat dari sudut pandang sempit, bukankah Pemerintah Hindia Belanda telah membangun kota, membangun jalur transportasi terpanjang Anyer-Panarukan, jalan-jalan, jalur kereta api, pelabuhan dan lain-lain yang mungkin berstandar internasional? Kenapa kita dimasa lampau harus mengusir Pemerintah Hindia Belanda?

Tapi bagi "kaum berisik", mereka sadar, itu semua yang dibangun itu bukan untuk kita, tetapi untuk kemudahan infrastruktur mereka dalam menguasai tanah kita.

Jadi pertanyaannya, siapa yang saat ini benar-benar mencintai NKRI?

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif 


 

BERITA

Ustadz Haikal Hassan Bersama Ulama Mendeklarasikan Dukungan Untuk Anies Baswedan Untuk Pilpres 2019

 

Ustadz Haikal Hassan beserta sejumlah ulama melalui 'Gerakan Indonesia untuk Indonesia' hari jumat ini mendeklarasikan dukungan terhadap Anies Baswedan untuk maju sebagai calon presiden (capres) di pilpres 2019. 

Tata Cara Pengurusan Sertifikat Halal MUI

 

Sertifikat Halal MUI adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Sertifikat Halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. 

Kongres Ekonomi Umat 2017

 

Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) diselenggarakan pada 22-24 April 2017 di Hotel Sahid, Jakarta. 

Merayu Ulama & Membuka Deislamisasi Sejarah

 

Sejak jaman Indonesia baru merdeka hingga sekarang, Ulama dicari disaat butuh, kemudian dipinggirkan bahkan dimusuhi saat hajat politik telah terpenuhi.

Kali ini kita berharap ulama hanya membantu pihak yang benar-benar akan memperjuangkan Islam, bukan melalui 'Janji Politik' tetapi melalui 'Kontrak Politik' yang jelas dan tegas mengenai apa saja yang akan diperjuangkan beserta konsukuensi jika tidak dilakukan.

Musa, Penghafal AlQur'an Termuda Musabaqoh Hifzil Quran Internasional

 

Musa merupakan peserta termuda, yaitu berusia tujuh tahun dimana peserta lainnya berusia diatas sepuluh tahun dalam Musabaqoh Hifzil Quran Internasional kategori 30 juz untuk anak-anak di Sharm El-Sheikh, Mesir.

TAUSIAH

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Ustadz Buya Yahya 27 Mei - 14 Juni 2017

 

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Ustadz Buya Yahya 27 Mei - 14 Juni 2017 

Hijab Fashion Parade

 

Hijab Fashion Parade
Kamis, 15 Juni 2017
Hotel Sari Pan Pasific, Istana Ballroom. Jakarta 

Jangan Membenci Saat "Yang Berbeda" Bertanya

 

Seseorang bertanya, : "Kenapa Allah menurunkan Agama Yahudi dan Nasrani melalui nabi-nabinya? Jika Islam turun melalui Nabi Muhammad SAW, Bagaimana nasib Nabi-Nabi yang tidak beragama Islam sebelum jaman Rasulullah SAW?"

 

Inspirasi Rezeki dari Saudi Arabia

 

Yang saya heran didalam kemalasan mereka tapi saat Dhuha dan adzan sholat berkumandang, mereka bergegas untuk pergi ke Masjid, tidak ada kompromi. Di balik santai nya mereka, yang kita sebut malas, ternyata mereka adalah orang2 bertaqwa.

Balasan Surat Cinta Karena Allah (Berbeda Tetapi Tetap Sayang)

 

Sungguh Allah telah memuliakan kita dengan Islam dan Iman sebagaimana pernyataan sahabat mulia Umar bin Khottob Radiallahu Anhu

BELAJAR ISLAM

Nabi Ayyub AS

 

Iblis mengira ketaatan Nabi Ayub AS adalah hanyalah ketaatan untuk mengamankan kondisi ideal sang nabi agar terus dapat hidup dengan segala kenyamanan tersebut.

Mahzab Ulama Fiqih

Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu'. Ini adalah pengertian mazhab secara umum.

Imam Bukhari

 

Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli haditsUntuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits.

Rukun Sholat

 

Rukun Shalat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat shalat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka shalat pun tidak sah. 

Rukun Iman

Rukun Iman adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi untuk menjadi seorang dapat dikatakan beriman. Iman sering diartikan dengan percaya atau secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan).