sajada ujian kaya

 

Bersabar Saat Dalam Kelapangan Rezeki 

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan akan menimpamu, namun yang aku takuti ketika dunia dihamparkan kepadamu.”

(HR. Bukhari Muslim). (Hadits riwayat Muslim, al-Bukhari, dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam
kitab tentang Zuhud hal.73)

 

Banyak dari kita saat menghadapi sesuatu yang terasa tidak menyenangkan, misalnya kesempitan dalam rezeki, maka menganggapnya sebagai sebuah ujian atau cobaan dari Allah SWT.

Sebaliknya saat mendapat sesuatu yang menyenangkan, misalnya kelapangan dalam rezeki, maka kita akan menganggapnya bukanlah sebagai ujian atau cobaan dari Allah SWT.

Padahal keduanya adalah ujian atau cobaan dari Allah SWT. Sehingga seringkali kita akan mencari Allah SWT saat sedang susah dan menjauh dari Allah SWT saat diberikan kelapangan rezeki.

Bahkan didalam Al Qur'an terdapat contoh kisah tentang manusia yang mampu melalui ujian ini.

Nabi Sulaiman AS adalah raja yang sangat kaya dimana kerajaan tidak pernah tertandingi di zaman manapun, tetapi kebesaran serta kekayaannya itu menjadi jalan untuk membuktikan kebesaran Allah dan membuatnya semakin taat kepada Allah SWT.


رَبِّ اغْفِرْ لى‏ وَهَبْ لى‏ مُلْكاً لا يَنْبَغى‏ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدى‏ إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

"Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorangpun sesudahku."

(QS. Shad: 35)

 

 

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ ۚنِعْمَ الْعَبْدُ ۖإِنَّهُ أَوَّابٌ

"(Sulaiman) sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)."

(QS. Shad: 30)

 


Tetapi ada pula kisah dalam AlQur'an, dimana Allah pernah membenamkan manusia kedalam
perut Bumi, yang diuji dengan kekayaan berlimpah tetapi sombong dan suka pamer, yaitu
Qarun.

 

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.

(QS Al-Qashash : 76)

 


Qarun yang sebelumnya adalah orang yang miskin, kemudian dia minta didoakan oleh Nabi Musa As untuk menjadi kaya.

Sayangnya setelah menjadi sangat kaya, Qarun menjadi menjadi orang yang menyombongkan diri dengan mempamerkan kekayaannya kepada orang-orang.

Orang-orang kaya biasanya menyimpan kunci harta mereka dalam tempat rahasia agar tidak diketahui orang lain tetapi Qarun malah sengaja membawa kunci hartanya yang sangat besar dan berat walaupun dipikul oleh sejumlah orang-orang kuat, agar orang-orang kagum akan kekayaannya.

Bahkan Qarun pun melupakan bahwa kekayaannya diperoleh atas Izin Allah memalui doa Nabi Musa AS tetapi Qarun yakin bahwa kekayaannya ini adalah atas ilmunya sendiri.

Puncak pamernya adalah ketika dia ingin mempertontonkan seluruh kekayaan ditengah-tengah kota. Jika kunci hartanya saja sedemikian besar dan beratnya, dapat dibayangkan apalagi jika seluruh hartanya dibawa.

Disaat itu semua orang terkagum-kagum dan banyak yang berandai-andai untuk memiliki harta sebagaimana Qarun. Ternyata Allah SWT sangat membenci manusia yang menyombongkan diri sehingga Qarun itenggelamkan Allah keperut bumi bersama semua harta-hartanya itu.

 

 

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

Dia (Karun) berkata, "Sesungguhnya aku diberi harta itu, semata-mata karena ilmu yang ada
padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih
kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu
tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka

(QS Al-Qashash : 78)

 


فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu
golongan pun yang akan menolongnya selain Allah. Dan dia tidak termasuk orang-orang yang
dapat membela diri.

(QS Al-Qashash : 81)

 


تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Negeri akhirat itu, Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak
berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.

(QS Al-Qashash : 83)

 


Dari kisah tersebut membuktikan bahwa kelapangan rezeki pun merupakan ujian yang tidak mudah kita lewati.


Mengapa Allah SWT melebihkan sebagian dari yang lain?

Jika kita melihat logika manusia saja, seandainya kita semua dalam taraf ekonomi yang sama-sama kaya, maka roda ekonomi tidak akan berjalan. Karena pastinya tdak ada yang mau jadi petani, buruh atau bawahan.


Lalu dimana keadilan, saat saya menjadi yang fakir dan si Fulan menjadi yang kaya raya?

Mendapati kelapangan rezeki memang sesuatu yang tampak menyenangkan.

Kita tidak pernah merasa terlalu lama kelaparan, terlalu lama kepanasan, terlalu lama keletihan dan sebagainya.

Kita tidak pernah dipandang orang dengan tatapan tidak hormat, meremehkan, curiga, hina dan sebagainya.

Kita dapat merasakan semua kesenangan, rumah bagus, pakaian bagus, kendaraan bagus, pendidikan bagus, makanan enak, mengunjungi seluruh belahan dunia dan sebagainya.


Tetapi janganlah kita lupa, semua yang dapatkan itu akan diminta pertanggungjawabannya saat proses Hisab. Semakin banyak harta kita semakin banyak pertanyaan akan harta kita tentang darimana kita dapat dan bagaimana kita menggunakannya.

 


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu

(QS At-Takatsur : 1)

 


ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-
megahkan di dunia itu.

(QS At-Takatsur : 8)

 


Lalu salahkah jika kita ingin Kaya?

Yang sebaiknya dipahami adalah Kekayaan itu merupakan rezeki atau titipan dari Allah SWT. Bukan semata karena usaha, kecerdasan atau hal-hal lain yang bersumber dari diri sendiri.

Inilah ujian yang sering kali kita menjadi gagal memahaminya, sebagaimana kisah Qarun. Sehingga kita akhirnya merasa sebagai pemilik utuh atas harta kita

Karena kenyataannya dapat kita lihat, bahwa banyak diantara manusia yang sangat gigih berusaha, sangat cerdas dan memiliki berbagai kompetensi lainnya tetapi tidak juga menjadi kaya raya.

Adapula mereka yang sebenarnya tidak terlalu gigih berusaha dan tidak terlalu cerdas serta memiliki kompetensi lainnya tetapi dikaruniakan kekayaan yang luar biasa.

Walaupun ada juga yang dikaruniakan kekayaan karena kegigihan dalam berusaha, kecerdasan dan kompetensi lainnya.

Semuanya membuktikan bahwa rezeki yang kita terima adalah karena kehendak Allah SWT.

Saat kita merasa sebagai pemilik utuh atas kekayaan kita, karena merasa harta ini didapat oleh semata-mata hal-hal hebat yang ada didalam kita, maka kita pun menjadi merasa berhak menggunakannya dengan cara kita sendiri, inilah yang menjadi salah.

Berbeda jika kita merasa bahwa kekayaan ini merupakan titipan Allah SWT, kita akan menggunakan sesuai dengan cara-cara yang dikendaki oleh penitipnya.


Allah SWT telah memberikan rambu-rambu mengenai masalah rezeki, yang jika ditaati maka seharusnya mereka yang kekurangan akan "tercukupi" diantara yang berkelebihan. Dan jika terjadi masih banyak manusia yang harus kelaparan, sesungguhnya keadilan akan ditegakkan di negeri akhirat.

Artinya bukan menjadi kaya raya yang dipermasalahkan agama tetapi apakah kita telah menjadi kaya sesuai dengan ketentuan Allah SWT.


Rasulullah SAW Bersabda :

"Tidaklah mungkin terjadi seorang fakir menderita kelaparan dan kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab kebakhilan kaum berpunya. Ingatlah, Allah SWT akan melakukan perhitungan yang teliti dan meminta pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih"

(HR Ash-Shabuni).


"Tidak beriman kepadaku, orang yang nyaman tidur nyenyak sedangkan dia tahu tetangganya kelaparan"

(HR Al Bazzar).

 

Kewajiban Membantu Fakir Miskin

 

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (tidak meminta-minta).

(QS Az-Zariyat : 19)


Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), potensi zakat yang dapat terkumpul pada tahun 2015 adalah sebesar 280 triliun rupiah. Akan tetapi, kenyataannya zakat yang terkumpul baru 4 triliun atau 1,4% saja.

Data ini menunjukkan bahwa hanya 1,4% umat muslim di Indonesia yang menjadikan hartanya sebagai titipan Allah SWT, sementara sisanya (Wallahu A'lam) belum menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh pemilik harta tersebut, yaitu Allah SWT.

Data ini juga membuktikan bahwa kebanyakan dari kita pun tidak sanggup saat diuji dengan kelapangan rezeki.

 

Nabi Muhammad SAW Bersabda,

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan akan menimpamu, namun yang aku takuti
ketika dunia dihamparkan kepadamu.”

(HR. Bukhari Muslim).


Menurut para ahli, jika GDP (Gross Domestic Product inilah yang sering dipakai untuk mengukur pertumbuhan ekonomi) tahun ini naik 1% dari tahun lalu, maka secara makro akan mampu menyerap 350 ribu sampai 400 ribu tenaga kerja.

Sementara Jika zakat dikelola dengan amanah, maka pertumbuhan GDP lewat zakat akan meningkat minimal 2,5% dari GDP. Karena persentase zakat yang paling kecil adalah 2,5%. Zakat emas dan perak 2,5%. Zakat pertanian 5-10%. Zakat harta temuan 20%. Maka betapa zakat itu dapat mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.

 

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”

(QS.14:7)

 

 

Rasulullah bersabda,

“Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak, tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali.”

(HR Ahmad)

 

 

Sebenarnya diantara harta kita yang banyak itu ada titipan Allah untuk mereka yang harus kita berikan sesuai kaidah fiqih tentang berbagai jenis tentang zakat dan jumlahnya pun tidak terlalu besar.

Tetapi memang saat kita semakin kaya, jumlah prosentase yang kecil itu pun menjadi tampak sangat besar karena ketamakkan kita.

Kita yang telah dititipkan Allah SWT sejumlah bagian rezeki untuk mereka, malah menyimpan semuanya untuk kita sendiri.

Tak hanya tamak kita pun sering berbuat zholim kepada mereka.

Seringkali kita menjadikan anak yatim dan orang miskin untuk menjadi pelengkap seremonial yang kita publikasikan kemana-mana dimana sebenarnya setelah ajang seremonial itu selesai, mereka kembali merasa lapar dan kita lah yang diuntungkan karena menuai pujian serta serbuan jempol dari publikasi kita.

Kita pun berharap Allah SWT memakbulkan doa para anak yatim untuk kita, sambil mengusap kepalanya (hanya kita lakukan pada acara seremonial itu) agar kita menjadi lebih makmur dari karena kita telah memberi mereka sedikit makan dan uang sangu di hari itu tetapi kewajiban kita atas zakat yang lebih bisa mengentaskan kemiskinan malah kita kesampingkan.

Pantaslah jika secara keras Allah memberikan peringatan keras kepada kita dengan predikat pendusta agama.

 


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ -١- فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ -٢- وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ -٣- فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ -٤- الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ -٥- الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ -٦- وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ -

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak
yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang
shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’, dan enggan
(memberikan) bantuan.”

(Al-Ma’un 1-7)

 

Semoga Allah SWT membuka hati kita semua.


Sayyidina Ali RA berkata,

"Jika kemiskinan berwujud manusia niscaya akan kubunuh dia!"

 

 

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif

 

Baca Juga :

Bersabar Saat Dalam Kesempitan Rezeki


 

BERITA

Pakta Integritas Ijtima Ulama 2

 

Imam Syafei berkata :"Ikutilah 'Ulama yang dibenci kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik. Dan jauhilah 'Ulama yang disenangi kaum kafir, kaum munafiq, dan kaum fasik, karena dia akan menyesatkan kamu, menjauhkanmu dari Keridhoan Allah."

Pada prinsipnya para ulama yang tergabung ijtima Ulama yang meimiliki grass root gerakan 212 ini, bukanlah pendukung nama calon presiden, partai politik, koalisi partai dan sebagainya. Siapa pun dari mereka yang berpihak pada perjuangan Islam serta tidak zholim terhadap pihak umat muslim tentunya akan didukung

Ethis Crowd Mengenalkan Fintech Crowd Founding Berbasis Syariah Pertama di Dunia

 

Di tengah bangkitnya pilar-pilar ekonomi berbasis syariah, Ethis Crowd mengenalkan fintech crowd founding properti berbasis syariah pertama di dunia.

Tata Cara Pengurusan Sertifikat Halal MUI

 

Sertifikat Halal MUI adalah fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Sertifikat Halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. 

Erdogan Mengangkat Martabat Islam di Dunia

 

 

Turki sedang menggelar pemilu saat ini (24/6/2018). Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kini rupanya sedang berjuang keras memenangi kembali pemilihan umum yang akan datang melalui Partai AK. Sebagian besar warga Turki dan umat muslim yang mengamati peran Erdogan tentunya berharap Erdogan dapat memenangi Pemilu saat ini.

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Turki

 

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), TurkiMasjid Sultan Ahmed (Sultan Ahmed Camii) atau Masjid Biru (Blue Mosque) adalah sebuah masjid bersejarah yang terletak di Istanbul, Turki. Sebuah situs wisata populer di Turki. 

TAUSIAH

Doa Saat Menghadapi Masalah

 

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits 

Adi Hidayat

 

Ustadz Adi Hidayat menyelesaikan pendidikan pasca sarjana nya  di Islamic Call College Tripoli, Libya dan pendidikan magister nya di Agama Universitas Islam Negeri ( UIN ) Sunan Gunung Djati Bandung. 

Khalid Basalamah

 

Ustadz Khalid Basalamah menjalani pendidikan sarjananya di Universitas Islam Madinah lalu melanjutkan S2 di Universitas Mulim Indonesia dan melanjutkan lagi pendidikan S3 di Universitas Tun Abdul Razzak Malaysia.

Apa Yang Akan Kau Makan Nak, Jika Aku Wafat?

 

Bukankah untuk anak apapun akan kita lakukan? Akan sangat menyedihkan jika bukan ucapan terimakasih dan pelukan sayang yang kita terima saat berada di negeri akhirat, tetapi pemandangan buruk dari siksaan yang mereka terima dan tuntutan keadilan.

Doa-Doa Para Nabi & Rasul

 

Doa Nabi Adam 

“Robbana zholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin“  

BELAJAR ISLAM

Huruf Hijaiyah

 

Agar bisa membaca Al-Qur’an, kita perlu mengenali huruf-huruf hijaiyah, yang juga merupakan huruf dalam bahasa Arab. 

Tanda Baca (Harakat)

 

Harakat (Arab: حركات, dibaca harakaat) digunakan untuk mempermudah cara melapazkan huruf dalam tiap ayat Al Quran.  

Mengenal Jenis dan Sejarah Hadist

 

Pada masa awal Rasulullah melarang penulisan hadits agar tidak tercampur dengan periwayatan Al Qur'an. Setelah beberapa waktu, Rasulullah memperbolehkan penulisan hadits dari beberapa orang sahabat.

Keistimewaan Penghafal Al-Qur’an

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhaanahu wata’ala mengangkat derajat beberapa kaum dengan Al-Qur’an ini dan merendahkann yang lain dengannya pula.” (H.R. Muslim) 

Pembagian Hukum Fiqih Ibadah

Ibadat dalam ilmu fiqih terbagi atas 5 bab, yaitu Thaharah, sholat, puasa, zakat dan haji