Catatan kali ini bercerita tentang sebuah benda yang sangat terkenal. Biasa dipakai oleh kaum laki-laki dewasa untuk menghalau angin malam saat ronda, sebagai pelindung dari gigitan nyamuk saat tidur, maupun sebagai aksesoris di bahu saat ikutan acara abang-none Jakarte. Selain oleh laki-laki dewasa, benda ini juga banyak digunakan oleh anak-anak untuk main slepetan di sekitar masjid.

Dulu saya sempat mengalami permainan slepetan sarung. Biasanya pas malam di bulan ramadhan, orang-orang pada tarawih, saya and the gank malah main petasan dan slepet sarung. Sambil sesekali caper sama primadona komplek.

Yup. Nama bendanya adalah sarung. Sudah aja juga sebagai judul sih. Namun demikian, yang ingin saya bahas bukan lah sarung sebagai penghangat tubuh, selimut, ataupun mainan. Apalagi sarung sebagai perlengkapan olahraga. (sarung tinju, sarung tangan kiper).

Tentunya tidak wajib hukumnya memakai sarung, kecuali memang tidak ada pakaian lain selain sarung, yang bisa menutup aurat laki-laki. Dan yang ingin saya masalahkan bukanlah tentang wajib-tidaknya memakai sarung. Melainkan, bagaimana lebih-baiknya memakai sarung saat shalat berjamaah.

Lha? Memang ada masalah yah selama ini dengan pemakaian sarung saat shalat berjamaah?

Masalah serius sih, nggak. Tapi bisa jadi serius juga sih. (lha gimana si?). Cuma menurut saya, penggunaan sarung yang benar, dapat membantu terwujudnya kekhusyukan ritual shalat, terutama bagi orang yang berdiri di belakang orang yang menggunakan sarung tersebut.

Memang masalahnya di mana?

Itu lho, biasanya di sarung itu kan terdapat mereknya. Atau capnya. Nah, kalau saya sih ngerasa suka jadi terpancing untuk membaca tulisan merek sarung tersebut saat shalat. Nggak tahu sayanya yang nggak konsen, apa memang wajar kalau ada tulisan kita otomatis baca, meskipun bacanya dalam hati. Masak iya bacanya keras-keras. Lucu juga kalau sampai begitu. Lagi khidmat-khidmatnya shalat berjamaah, tiba-tiba saya berteriak,

“SARUNG ATLAS!”

Lalu ada jamaah yang melihat hal yang sama, tapi beda merek, yang nyahutin,

“SARUNG CAP GAJAH DUDUK!”

“CAP MANGGA!”

“SARUNG WADIMOR!”

“SARUNG SAMARINDA!”

“SARUNG CAP KAMPAK!” (emang ada?)

“SARUNG CAP BERUANG!” (siapa tuh yang shalat pakai kaleng susu?!)

Lalu shalat berjamaah pun berubah jadi ajang lelang. Lalu, sebaiknya seperti apa?

Nah, menurut saya lebih baik bagian merek itu jangan berada di lipatan bagian belakang. Kalau pun di bagian belakang, bagian yang ada mereknya posisikan di atas, sehingga merek tetap tersembunyi. Jadikanlah mereknya sebagai acuan dengan menggenggamnya pakai tangan. Jangan malah nyengajain supaya mereknya ada di belakang bagian bawah, entar bisa-bisa digoda setan. Setan bisa saja membisikkan kita untuk sengaja memperlihatkan merek sarung dalam rangka pamer karena merek sarung yang kita gunakan terkenal, mahal, berlapis cokelat. Potensi bahaya, kan? Toh, tidak telihatnya merek tidak akan mengurangi kualitas sarung yang kita gunakan.

Mungkin ada pembaca yang bertanya, Kalau masalah kekhusyukan shalat, kenapa sarung yang dibahas? Kenapa bukan baju saja? Kan baju banyak yang ada tulisan di bagian belakangnya. Malah biasanya tulisannya banyak, ditambah gambar-gambar yang bisa merusak konsentrasi. Itu betul.

Saya juga setuju kalau kita harus lebih hati-hati memilih baju untuk shalat. Saya sendiri suka malu shalat di saf depan kalau lagi pakai baju yang ada tulisannya. Tapi, menurut saya, penggunaan baju bertulisan masih mendingan, dibanding sarung yang tampak mereknya.

Hal itu karena posisi tulisan pada baju dengan arah pandang kita saat shalat tidak berlurusan. Karena arah pandang kita saat shalat adalah ke bawah, ke tempat kepala kita ada saat sujud, maka tulisan pada baju tidak akan terlihat, sehingga tidak akan terbaca.

Berbeda dengan merek pada sarung. Meskipun memang berbeda dengan arah pandang kita saat shalat, tapi posisinya sama-sama di bawah, sehingga besar kemungkinan akan ikut terlihat oleh pandangan kita yang memang cukup luas.

Namun, tetap saya mendukung kalau penggunaan baju yang ada tulisannya lebih baik dihindari. Apalagi kalau sampai ada gambar-gambar yang berpotensi merusak konsentrasi. Seperti gambar karakter kartun yang terjebak dalam labirin, sehingga berpotensi membuat orang di belakangnya bukannya mendengarkan bacaan imam, malah mencari jalur yang tepat bagi keluarnya tokoh kartun tersebut. Sudah gitu, karena belum berhasil juga, pas tahiyat, yang notabene mengacungkan jari telunjuk, orang ini malah nempelin telunjuknya pada kaos tadi untuk mencari jalur yang tepat bagi tokoh kartun tersebut untuk keluar dari labirin. Kan jadi geli juga yang punya kaos karena ada yang nyentuh-nyentuh punggungnya. Iiiiy.... apaan si nih, katanya begitu.

Apalagi kalau kaosnya bertuliskan tebak-tebakan. Kan bisa bikin orang di belakangnya jadi nyari-nyari jawaban. Bagus kalau dipendam sendiri, kalau malah bertanya pada jamaah di samping gimana? Bisa-bisa pas yang lain berucap “AAMIIN...”, orang ini malah berteriak “AAMPUNN... SUSAH BENER NIH TEBAK-TEBAKANNYA! TOLONG DIBANTUUUU...!”

Yang lebih parah, kalau sampai baju orang di depan kita bermotif TTS. Lengkap dengan pulpen bertali yang menggantung pada leher pemakainya. Kira-kira, apa yangakan Anda lakukan?

 

Wallahu a’lam bish-shawab

SAJADA Media Islam Inspiratif

 

Baca Juga :

Bersabar Saat Dalam Kesempitan Rezeki


 

BERITA

Ustadz Haikal Hassan Bersama Ulama Mendeklarasikan Dukungan Untuk Anies Baswedan Untuk Pilpres 2019

 

Ustadz Haikal Hassan beserta sejumlah ulama melalui 'Gerakan Indonesia untuk Indonesia' hari jumat ini mendeklarasikan dukungan terhadap Anies Baswedan untuk maju sebagai calon presiden (capres) di pilpres 2019. 

Koreksi Terhadap Pandangan Mainstream Tentang Sejarah Islam Di Indonesia

 

Padahal sejak abad ke 6, agama Islam telah berdampingan bersama agama Hindu & agama Budha di Nusantara telah ada kerajaan-kerajaan Islam jauh sebelum kerajaan Majapahit.

Upaya Memisahkan Islam Dengan Politik

 

Snouck Hurgronje menegaskan bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para Ulama, Islam harus dianggap sebagai faktor negatif.

Tabligh Akbar Politik Islam - Subuh Berjama'ah di Masjid Al Azhar

 

Semenjak bergulirnya masalah "Penistaan Al qur'an", terlepas dari masalah itu sendiri, rupanya membawa dampak positif, yaitu merekatnya kembali ukhuwah Islamiyah.  

Akhirnya Paytren Fintech Berbasis Syariah Mendapat Izin OJK

 

Ustadz Yusuf Mansur melalui Paytren merupakan salah satu figur contoh tokoh islam, yang selama ini telah berjuang untuk menunjukkan bahwa Umat Islam Indonesia sebagai golongan mayoritas harus menjadi pemain pasar utama di negaranya sendiri. Jangan cuma menjadi penonton atau cuma sebagai target pasar dari para pebisnis non muslim, apalagi pihak negara asing. 

TAUSIAH

Muhammad Syafii Antonio

 

Muhammad Syafii Antonio adalah seorang muslim keturunan Tiong Hoa yang menjadi pakar ekonomi syariah di Indonesia. 

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Ustadz Syafiq Riza Basalamah

 

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Ustadz  Syafiq Riza Basalamah

Sabtu 20 Mei 2017

Kajian Dhuha 09.00 | Akankah Lebih Baik?
Masjid Raya Al Musyawarah, Jl Boulevard Kelapa Gading 
Jakarta Utara 

Melatih Kebiasaan Sholat

 

"Saat kita sholat, kita sedang meletakkan kepala kita sejajar dengan kaki untuk menyerahkan diri secara penuh kepada Yang Maha Kuasa, dimana didalamnya berisi segala permohonan, pujian dan rasa sykur kepada Nya, betapa sombongnya kita yang berani menyerahkan urusan hidup sendirian dengan meningggalkan sholat." 

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Yusuf Mansur 2017

 

Jadwal Majelis Taklim, Ceramah, Tausiyah Yusuf Mansur 2017 

Doa Mohon Terbebas Dari Hutang

 

Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal 'ajzi wal kasali, wa a'udzubika minal jubni wal bukhli, wa a'udzubika min ghabatid dayni wa qahrir rijaal

BELAJAR ISLAM

Hukum Dalam Fiqih

Hukum Dalam Fiqih Terbagi Menjadi Lima

Berbagai Metode Menghafal Al Qur'an (Tahfiz)

 

Dengan menghafal, bukankah artinya kita terus mengulang-ulang bacaan sehingga kita banyak mendapat pahala beserta manfaat-manfaat lainnya yang didapat untuk orang yang membaca Al Qur'an. 

Mahzab Ulama Fiqih

Mazhab menurut ulama fiqih, adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu'. Ini adalah pengertian mazhab secara umum.

Rukun Iman

Rukun Iman adalah hal-hal yang disyaratkan atau harus dipenuhi untuk menjadi seorang dapat dikatakan beriman. Iman sering diartikan dengan percaya atau secara bahasa berarti tashdiq (membenarkan).

Mengenal Sifat Allah

Sifat Allah itu tidak terhitung atau tidak mungkin terdefinisi oleh ilmu manusia yang terbatas.

Hanya saja para ulama terdahulu mencoba membuat metode membatasi sifat Allah yang kita kenal dengan "20 sifat wajib" agar kita dapat lebih mudah mengenal Allah melalui sifat-Nya.